Sebagian besar berharap mempunyai 'penghasilan lebih' atau 'penghasilan tambahan' atau apapun namanya...
Secara umum, upaya-upaya mencari penghasilan tambahan mengerucut pada satu kata populer : 'bisnis'
selanjutnya, dalam tulisan ini istilah 'bisnis' tetap digunakan untuk memudahkan, walaupun pada dasarnya usaha yang dilakukan tidak melulu cocok dengan istilah 'bisnis' ini. Mungkin kata yang cocok adalah 'trading(jualan)', 'profesional', 'konsultan', dll
Tidak sedikit orang yang berhasil mendapatkan penghasilan tambahan, namun banyak juga yang masih ragu untuk memulai..
Pertanyaan standar yang kerap dilontarkan dalam memulai bisnis adalah :
-Bisnis apa yang paling menguntungkan?
- Berapa modal yang harus disediakan?
- Bagaimana bisnis tanpa modal?
- Bagaimana memilih?
- Bagaimana memulai?
dan masih banyak pertanyaan lain
Sebagian orang memberikan masukan dengan menawarkan berbagai jenis bisnis, mulai dari reseller, franchise, online marketing, sampai penyertaan saham/kepemilikan usaha.
Tak jarang masukan tersebut disertai dengan penyebutan 'data' yang tampak fantastis, seperti
- Pengusaha A berhasil memiliki aset sekian dalam waktu sekian
- Bergabung dengan bisnis ini memberikan penghasilan sekian per bulan
- Laba yang dikumpulkan dalam bisnis ini mencapai sekian
- Baru bergabung dengan bisnis ini sudah punya apa dan apa
- dan lain-lain
Pada dasarnya, latar belakang dan kebutuhan setiap manusia berbeda-beda. Hal ini menjadi lahan yang menarik untuk berbagai jenis bisnis, sehingga tidak layak mengklaim satu jenis bisnis lebih baik dari jenis bisnis lain.
Ada orang yang sukses berbisnis di bidang properti, media, jaringan sosial, hardware, fashion, multimedia, trading, pendidikan, kesehatan dan lain-lain.
Berikut ini sedikit informasi tambahan untuk bisa menilai suatu tawaran bisnis layak dikatakan menarik atau tidak menarik
Pada dasarnya, suatu bisnis dinilai berdasarkan analisis aspek-aspek CARDEX (Capital, Asset, Return, Debt, Earning, Expense)
Capital : Bisnis yang kuat secara teoritis selalu didukung modal yang cukup (bukan besar). Modal yang baik adalah modal yang betul-betul disediakan untuk bisnis tersebut, bukan modal yang sewaktu-waktu ditarik/dialihkan)
Asset : Harta yang beredar dalam bisnis tersebut. Asset ini BUKAN MILIK bisnisman. Asset ini hanya menunjukkan berapa besar kekayaan yang dikelola dalam bisnis tersebut. Sehingga terlalu dini untuk memuji bisnis hanya berdasarkan assetnya saja
Return : Tingkat pengembalian dalam bisnis, secara sederhana dapat dikira-kira dengan patokan waktu, yaitu berapa lama waktu yang dibutuhkan hingga modal dapat kembali dan laba yang diharapkan dapat tercapai.
Debt : Jumlah hutang dalam bisnis tersebut. Bisa jadi suatu bisnis memiliki Asset yang besar, namun sebagian besarnya diperoleh melalui hutang
Earning : Pendapatan. Bisa saja suatu bisnis memiliki asset/modal yang besar, tapi labanya tidak besar. Contoh, jika dua jenis bisnis (A dan B) menawarkan return 300rb rupiah, bisnis A bermodal 1 juta rupiah, bisnis B bermodal 300 rb rupiah, maka dikatakan bisnis B lebih baik daripada bisnis A
Expense : Biaya. berapa biaya yang dikeluarkan untuk operasional bisnis tersebut. Aspek biaya ini sering terabaikan dalam bisnis sampingan, sehingga kadang tidak disadari bahwa biaya yang dikeluarkan lebih besar dibandingkan laba yang didapat.
Bagi para pemula, aspek2 di atas dapat membantu dalam penilaian aneka jenis bisnis yang ditawarkan. Dalam hal ini, analisis aspek tersebut dapat dilakukan secara general saja. Jika dibutuhkan penilaian yang akurat, tentunya harus dihitung secara detail.
Bagi para pebisnis, silahkan dievaluasi kembali aspek tersebut diatas, sebagai deteksi dini kesehatan bisnis yang telah dilakukan. Semakin besar tingkat bisnis yang dijalankan, semakin tinggi kebutuhan akan perhitungan yang detail dan cermat untuk menghasilkan keputusan yang akurat.
Semoga bermanfaat

0 komentar:
Poskan Komentar